Curhat..curhat..

Posted in Day by Day on Oktober 2, 2009 by Ebi

Saya bosan. Bukan ding, hanya sedikit kesepian. Oya? atau merasa terlalu banyak dihantui kekhawatiran? Aaaaargh, ga tau.. saya katakan saja, Saya sedang takut.

Mungkin saya hanya belum siap berjalan sendiri. Hohoho..ternyata ga mudah belajar mandiri, karena saya terlalu terbiasa ditemani. Sampai kemarin lulus kuliah, jadi pengangguran bareng temen-temen, belum ada kekhawatiran apa-apa. Hingga saatnya tiba untuk memilih langkah masing-masing, yang berarti tidak lagi akan bersama-sama. Dan waktu pun berjalan, setiap orang kini sudah memilih dan berada di tempatnya yang baru, dengan tantangan baru tentunya. Begitupun semestinya saya. Tapi saya masih di sini. Memang untuk sebuah tujuan, pun dengan tantangan yang berbeda. Tapi saya masih di sini. Di tempat yang sama dengan 5 tahun yang lalu. Dan saya kesepian.

Saya akan menjadi orang yang sangat naif jika berharap semuanya akan sama hanya karena saya masih di tempat ini. Maka saya pun tidak ingin mencoba membawa teman-teman saya tetap dalam dunia saya, hanya karena kami dulu pernah bersama-sama di sini. Saya akan menjadi sangat egois jika tetap meminta mereka ada, sementara pastinya mereka pun saat ini sedang merasakan masa transisi yang mungkin sama tidak nyamannya dengan yang saya rasakan. Dan saya pun ga mau menahan teman-teman saya yang masih di sini, berharap mereka tetap di sini menemani saya, padahal udah waktunya mereka pergi menjelajah dunia yang lain.

Seorang kawan kemudian menyadarkan, “Ini kan udah jadi pilihan Ebi, jadi harus tetep kuat”. Ah, ya dia benar. Tapi mungkin akan berbeda rasanya jika saya bukan berada di sini, dan harus melihat mereka pergi satu per satu. Mungkin berbeda rasanya jika kami sama-sama berada di tempat yang baru..
Aaaah, Astagfirullah, kenapa saya jadi berandai-andai..

“Tuhanku, hamba mohon petunjuk. Jika memang jalan hamba adalah di sini, maka kuatkan diri ini. Namun, jika bukan, maka berikan jalan dan keyakinan untuk hamba berputar arah.”
(boleh ga sih berdoa kaya gini??)

Hitam, oh Hitam..

Posted in Uncategorized on September 13, 2009 by Ebi

Saya suka hitam. Untuk berbagai hal, dari mulai pakaian sampai tema blog ini. Ga tau kenapa, setiap saya dihadapkan pada pilihan yang menawarkan berbagai macam warna, saya selalu lebih jatuh cinta pada yang berwarna hitam.

Suatu hari teman saya bertanya, “Ebi kenapa suka warna item sih? biar keliatan lebih kurus ya??” . Hahaha.. bener juga sih. Katanya warna hitam, terutama untuk pakaian akan menimbulkan efek lebih kurus. Tau aja ni saya berusaha berkamuflase..hehe..

Tapi sebenernya bukan karena itu saya suka hitam. Hitam, menurut saya adalah satu-satunya warna yang absolut, Ga seperti warna lain, seperti merah atau biru yang gradasinya banyak sekali. Merah darah, merah marun, biru muda, biru tua, ampe biru donker. Coba, kalo item, emang ada item muda? itu mah jadi abu-abu dunk..

Lho, tapi putih juga begitu, kan? ga ada tuh putih muda.. Yup, yup bener banget. Saya juga ga kebayang kaya apa tu warna putih muda. Tapi tetep aja, saya lebih suka hitam, karena hitam adalah warna yang kuat, lagi-lagi menurut pendapat saya lho..

Karena Warna hitam itu bisa menyembunyikan hampir semua warna. Warna hitam yang dicampur warna kuning akan tetap hitam, dicampur hijau pun tetap saja hitam. Kecuali dicampur warna putih. Dalam kadar tertentu baru deh dia berubah jadi abu-abu. Tapi yang menarik adalah, untuk menjadikannya abu-abu, warna putih hanya membutuhkan sedikit warna hitam, namun warna hitam, jika kita ingin menjadikannya abu-abu, maka lebih banyak warna putih yang harus kita berikan. Karena itulah, saya katakan, hitam adalah warna yang kuat, dan saya suka hitam.

(Hihi..penting banget dah ni tulisan..)

Belajar dari Air

Posted in Ceritanya Lagi Serius on Agustus 26, 2009 by Ebi

Saya mau menyambung ke-sok ilmiah-an saya tentang titik lebur pada tulisan sebelumnya nii..hehe..

Saya menemukan sesuatu yang menarik lagi dari pelajaran mengenai energi panas. Ternyata, panas yang dibutuhkan untuk memanaskan air dari temperatur 5oC hingga 100oC jauh lebih kecil daripada panas yang dibutuhkan untuk menguapkan air dalam jumlah yang sama.

(Apa menariknya? dasar, mulai autis ni.. -kompiekusayang)

Ada dua hal yang menginspirasi saya dari fenomena penguapan air ini. Yang pertama, jika alat ukur yang saya gunakan hanya termometer, maka mudah bagi saya menduga bahwa usaha yang dilakukan sebagian besar terpakai saat memanaskan airnya, karena perubahan parameternya terlihat sangat jelas. Air yang awalnya dingin, temperaturnya meningkat terus dan terus bertambah panas. Sementara saat menguap, temperatur air tidak berubah. Tidak ada yang bisa diukur.

Fenomena ini mengajariku untuk tidak kaku dalam memandang suatu hal. Bahwa dibutuhkan beberapa sudut pandang untuk menilai sesuatu, bahwa tidak bisa hanya menggunakan satu parameter untuk mengukur sebuah kebenaran.

Kemudian yang kedua, proses penguapan ditandai dengan proses pendidihan. Pada saat itu, air yang pada mulanya tenang akan mulai bergejolak, memunculkan gelembung-gelembung uap yang menerobos ke atas dan kemudian pecah di permukaan. Hm.. kalau dari peristiwa ini saya mendapatkan pelajaran tentang betapa perubahan kadang terlalu menyakitkan dan tidak nyaman. Tapi toh perubahan itu selalu terjadi, dan memang perlu terjadi. Agar siklus energi terus berputar, dan tidak tetap menjadi energi potensial yang tidak termanfaatkan. Yaah, untuk hal yang satu ini saya masih harus banyak berlatih agar tetap kuat dalam menghadapi ketidaknyamanan dan seringkali rasa sakit akibat perubahan yang terjadi.

Baiklah, sekian saja tulisan (sok)ilmiah ini. Kasian si kompiekusayang yang udah pusing-pusing gara-gara menampung tulisan ini, hehehe..

Titik Lebur

Posted in Ceritanya Lagi Serius on Agustus 18, 2009 by Ebi

Saya pikir hidup memang sama sekali tidak eksak. Yah, walaupun saya selalu percaya bahwa hukum aksi-reaksinya Newton berlaku dalam setiap bidang kehidupan, nyatanya meskipun besarnya aksi memang akan sama dengan besarnya reaksi, tapi toh reaksi itu seringkali tidak datang sekejap setelah aksi kita lakukan. Dan tetap saja, meskipun kesetimbangan energi pun berlaku dalam segala hal, tapi energi begitu mudah berubah bentuk, sehingga kadang kita tidak sempat mengamati pergerakan energi itu.

Aah, bahasannya sok ilmiah banget ya..Hehe, sebenernya saya hanya sedang menghibur diri. Karena kadang-kadang, saat kita telah merasa melakukan usaha yang besar dan terus-menerus, namun dampaknya sama sekali tidak tampak, kita begitu mudah menyerah. (kita?? saya aja, mungkin ya..^-^)

Menurut saya lebih mudah menerima sesuatu yang langsung ada dampaknya. Misalnya waktu saya senyum ke orang, saya berharap orang itu balik senyum ke saya. Atau bahkan lebih melegakan rasanya kalo mereka malah mengernyitkan wajah atau bahkan jadi marah-marah gara-gara saya senyumin daripada mereka cuek aja.

Tapi nyatanya, dampak dari setiap laku kita lebih sering tidak datang secara langsung. Untuk hal ini saya ingin selalu bisa menghibur diri dengan mengingat mata kuliah Termodinamika di tingkat 2 (sebenernya di SD juga diajarin sih..) tentang titik lebur es. Jika kita memanaskan sebongkah es yang bertemperatur, katakanlah -10oC, kita tidak akan melihat perubahan apa-apa selama beberapa waktu. Namun jika kita terus memanaskannya, maka pada suatu titik, es tersebut akan tiba-tiba melebur menjadi air. Titik itu adalah 0oC pada tekanan 1 atmosfer, titik lebur es. Maka jangan berharap akan melihat perubahan pada es tersebut, jika belum sampai 0oC kita sudah menyerah dan kemudian berhenti memanaskannya.

Yap, dengan hal inilah saya berusaha untuk berhenti berpikir bahwa usaha apapun yang telah saya lakukan adalah sia-sia. Namun, memang saya tidak tau dimana titik lebur itu akan saya temui. Maka saya akan berusaha untuk tidak menyesal karena terlanjur berhenti di titik yang sebenarnya telah sangat dekat dengan titik lebur tersebut.

I Think of You

Posted in Songs and Poems on Agustus 13, 2009 by Ebi

When I’m down and all alone
When nothing seems to matter
When I lose my hope
When I’m sad and confused

When it all gets turned around and ’round
I can’t seem to reach for solid ground
When everything I’ve believed in seems untrue
All I have to do

Chorus
Is think of you
I think of you and it’s gone
Like you chase away the storm
Making it all okay
I think of you
I think of you and I’m strong
And I know I can go on
It’s like you set me free
When life gets the best of me
I just think of you

Now I know what love means
And whatever life may hold for me
Through the fire
Through the rain I believe

Cause there’s nothing I can’t bear
Knowing that you will be there
If I fall I won’t break
Through it all I’ll make it through
Cause all I have to do

And when I think I’m all alone
I can’t see the way to go
Lost in the rain of my own tears
To wash away the pain and fear

For the good times and the bad times
I just think of you
Cause you know you get the best of me
I just think of you

Iseng saja

Posted in Uncategorized on Juli 25, 2009 by Ebi

Saya sedang berpikir tentang tulisan-tulisan saya di blog ini. Kadang saya merasa dangkal sekali jika membaca blog saya, kemudian membaca blog-blog lain yang sangat sarat inspirasi. Ada saatnya saya berpikir untuk ikut-ikutan seperti itu, menulis untuk menginspirasi orang lain. Menulis sesuatu yang besar, mengenai hikmah, pelajaran hidup, perenungan tentang Tuhan, dan sebagainya.

Tapi sebelum saya melakukan itu, saya akhirnya teringat saat pertama kali membuat blog ini. Diajak Charlie? iyaaa, betul. Namun bukan bagian yang itu, tapi lebih ke alasan kenapa akhirnya saya setuju ikutan buat blog. Yup, it’s not about something to be read, but something to be written. Saya menulis hanya untuk belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan saya secara jujur, untuk ga takut dikritik, untuk menampilkan saja diri saya apa adanya. Mungkin hanya itu motifnya. Ya, saya pikir memang hanya itu motifnya.

Yaaaah, apa pun lah.. yang pasti saya sangat bersyukur, masih ada teman-teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan saya, bahkan memberi komentar. Senangnya… ^_^

Aku adalah Bahasaku

Posted in Uncategorized on Juli 15, 2009 by Ebi

Tulisan, katanya adalah wujud kebebasan berekspresi. Tulisan pun dapat digunakan sebagai senjata ampuh untuk menggiring opini publik. Wooow.. memang saya ga bisa memungkiri hal ini. Toh contohnya udah terlihat dimana-mana. Dan itu membuat saya berpikir, adakah suatu etika dalam menulis, agar sebuah tulisan tetap bisa menjadi perwujudan hak asasi manusia dalam mengeluarkan pendapat, namun juga tetap dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada Tuhan, maupun manusia lain.. (hahaha, bahasanya kaya PPKn bangeet).

Yaah, walopun tulisan saya juga ga akan nyangkut hal-hal yang berat dan dapat mengganggu stabilitas keamanan negara, tapi tetep aja buat saya tulisan harus dapat dipertanggungjawabkan, makanya harus ada prinsip yang dipegang saat saya menulis.

Menurut saya bahasa adalah suatu bentuk energi. Setelah dihasilkan dari sumbernya, ia dapat diserap, direfleksikan, ataupun diubah menjadi bentuk lain. Tapi hanya sumbernya saja yang memiliki definisi dan kuasa penuh atas dirinya.

Prinsip itulah yang saya pegang dalam menulis.

Menjadi reflektor yang baik, dengan sedapat mungkin mencantumkan sumber jika saya mengutip, agar orang lain dapat mengambil manfaat lebih dengan mencari langsung ke sumbernya.

Menjadi abrorber yang baik saat saya memperoleh pengetahuan dan inspirasi baru, ataupun kritikan dan ketidaksetujuan dengan menerimanya bukan karena “siapa” yang mengatakan, melainkan karena “apa” yang dikatakan.

Menjadi transmitter yang baik atas pikiran-pikiran dan perasaan saya, agar keluar dalam bentuk yang jujur namun tetap santun. Dan berharap bisa jadi pengubah yang baik juga, sehingga setiap input energi dari perjalanan hidup ini (weew..bahasanya..) bisa saya jadikan sesuatu yang bermakna.

( Haduh-haduh, beginilah kalo belajar Heat transfer dicampur dengan belajar kode etik kepenulisan..jadi aneh bin lebai..hohoho.. )

I love Friday..!!!!

Posted in Day by Day on Juli 10, 2009 by Ebi

Mengingat beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jumat..

Jumat, 28 Februari 1986, pukul dua dini hari : seorang manusia baru untuk pertama kalinya diizinkan menghirup udara di dunia.

Jumat, 17 Oktober 2008, pukul 13.00 : saya untuk pertama kalinya bertemu muka dengan seseorang yang membuat saya melted, kagum, dan jatuh hati, (prikitiw…hehehe..), dan selanjutnya memberi saya pengalaman patah hati, hahaha..ya begitulah cinta, penderitaannya tiada akhir..(uweeew..emangnya Ti Patkay..)

Jumat, 20 Maret 2009, pukul 15.00 : saya seminar..!!! thanks buat kawan-kawan yang dukungannya begitu berharga..

Jumat, 27 Maret 2009, pukul 09.00 : Sidang cuy.. Akhirnya saya lulus menjadi Sarjana Teknik Mesin ITB. Terimakasih buat Pak Ari yang masih memperjuangkan saya untuk wisuda April, sampe menyediakan waktu sampai tanggal segitu, juga buat Pak Agung dan Pak Kemas yang memberi pertanyaan-pertanyaan yang bisa saya jawab, hehehe..

Apalagi ya?? Ah, entah saya sudah lupa, intinya, I love Friday..!!!

(Apakah) Aku Istimewa

Posted in Day by Day, tentang rasa on Juni 15, 2009 by Ebi

Curhat lagi, curhat lagi..ah, tapi biarin deh, emang lagi labil nih, hehe..

Waktu kecil aku termasuk anak yang kurang percaya diri. Yaaah, mungkin bahkan sampai saat ini juga kadang seperti itu. Dulu aku sering bertanya pada diriku, kenapa aku tidak seperti orang lain. Kenapa aku ga cantik seperti teman-teman lain, ga tinggi, malah bantet (huahahahaa…), kenapa aku dilahirkan di keluarga yang biasa-biasa aja, kenapa aku cenderung pemalu dan pendiam, ga aktif kaya temen-temen, kenapa aku ga populer, dan banyak kenapa-kenapa yang lain, bahkan ampe kenapa namaku ga pake huruf F, agar lebih normal terdengar dan ga menimbulkan pertanyaan lanjutan. Sejujurnya aku sangat rendah diri waktu itu. Ditambah lagi karena sifatku yang lebih introvert, jadi aku ga pernah protes atau setidaknya mengungkapkan perasaanku pada siapa-siapa, cuma memendamnya dalam hati.

Kemudian suatu saat mulai timbul suatu pengertian bahwa tampilan fisik tidaklah terlalu penting, yang lebih penting adalah isi kepala dan hati. Maka mulai saat itu aku mulai membuktikan kualitasku. Bukan ingin menunjukkan apa-apa, hanya karena ingin meningkatkan percaya diri, makanya sejak kelas 6 SD aku bertekad untuk selau berprestasi. jadi peraih peringkat NEM kedua tertinggi, dilanjutin di SMP untuk selalu masuk top 2 sekolah dan berusaha berperan di kepengurusan inti OSIS, jadi wakil sekolah untuk lomba-lomba, dan macam-macam yang membuatku lumayan famous..(heheheee..sombong ni, ebi..). Alhamdulillah, hal itu cukup mendongkrak rasa percaya diriku.

Di SMA beda lagi. SMA favorit, tentu banyak orang istimewa. Lalu aku kembali terkagum-kagum, kok ada ya orang yang udah mah cantik, pinter, jago organisasi, kreatif, supel, alim pula.. kembali aku berpikir, kok aku ga seperti dia ya.. apalah aku ini kalo dibandingin sama orang seperti itu. Ga ada yang spesial dari diriku.
Hoho, memang begitulah kalo selalu membandingkan diri sama orang lain, ga mensyukuri yang aku punya. Cape sendiri.

Beruntunglah aku kuliah di jurusan yang banyak kaum adamnya. di sana aku belajar untuk ga terlalu peduli sama penilaian orang, lebih cuek, apa adanya saja. Yaah, walopun sebenernya rasa minder itu masih ada kalo ngebandingin diri sama temen-temen cewe seangkatan, yang cuma 3 dan semua oke punya. Ada yang jago banget organisasi dan kemampuannya ga kalah sama pria, ada yang supel luar biasa ampe terkenal di seantero kampus, ada yang sangat cantik dan pintar, so admireable. Dan aku?? ordinary..

Tapi aku ga terlalu ambil pusing. Karena aku ga akan pernah bisa menganggap mereka sebagai rival. I really love them. Mereka mengajariku untuk menjadi diriku saja. (I love U, ladies..!!!!). Selain itu, aku semakin banyak melihat keistimewaan manusia melalui pergaulanku dengan teman-teman sejurusan. Mereka semua pria, dan aku tetep ga bisa kalo disuruh mengurutkan siapa yang paling baik di antara mereka. Karena mereka semua punya kelebihan masing-masing yang ga bisa diperbandingkan. (Yes, U are, my pren.. kalian semua sangat istimewa..)

Dari situ aku dapet pembelajaran, seperti kata seorang bijak, bahwa bukanlah apa yang kamu punya, tapi apa yang kamu lakukan dengan yang kamu punya yang menentukan nilai dirimu.

Lalu apakah masalah krisis percaya diri itu kemudian teratasi? Ternyata tidak juga, kawan-kawan. Aku masih sering tidak merasa puas dengan diriku. Aku masih ga tau, apa yang bisa membuatku istimewa..dan aku masih selalu mencari hal itu.

Huaaaah, ya udah lah..cuma sedang ingin mengurangi beban kok..hehe..

Idealisme??

Posted in Day by Day on Juni 11, 2009 by Ebi

Terkadang timbul dalam diriku pertanyaan tentang sebuah idealisme. Tentang sesuatu yang menjadi dasar untuk melakukan segala sesuatu dan memutuskan setiap persoalan. Pun untuk pilihanku kali ini. Akhirnya aku telah membulatkan tekad untuk mengejar mimpiku menjadi dosen. Terdengar biasa saja??? mungkin untuk orang lain iya, tapi tidak untukku.

Aku ingin jadi dosen. Awalnya sederhana, karena waktu kerjanya fleksibel, sehingga nantinya ga akan mengganggu peranku sebagai seorang ibu untuk anak-anakku (jiaaaah..pikirannya jauh sekali…). Lagipula aku memang senang mengajar. Bukan karena aku lebih pintar, tapi karena dengan cara itulah aku bisa belajar dengan lebih baik dan selalu termotivasi.

Tapi kemudian saat keputusan itu aku sampaikan ke pihak-pihak yang berkaitan dengan jalannya (halah, ribet bahasanya..maksudnya dosen dan pihak prodi-red) kok jadi jiper ya? Mereka sangat mendukungku, tapi justru malah membuatku jadi agak takut. Memangnya aku pantes jadi dosen dengan IPKku yang ga terlalu istimewa? yah, meskipun untuk pertanyaan ini aku masih optimis sih, bahwa aku bisa berusaha lebih baik di jenjang berikutnya.

Iya, aku masih takut, karena sebenernya pertanyaan yang lebih sering mengganggu pikiranku adalah, apakah aku sudah pantas menjadi seorang pendidik? Idealisme seperti apa yang sudah aku punya untuk menjadi seorang pendidik, bukan sekadar pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan seorang pendidik yang menanamkan nilai-nilai kehidupan dan membantu para pemuda menemukan perannya dalam masyarakat. (wahai, berat nian pikiranmu kali ini, Bi..) Ah, entahlah, kupikir belum ada. Tapi aku berjanji akan memilikinya, seiring dengan perjalananku menggapai mimpiku ini.. Semoga.